We're just trying to give meaning to life and makes life more meaningful.

.

Jalan Hidup

Setiap orang mempunyai prinsip dan pandangan yang berbeda di dalam memilih dan menentukan jalan hidupnya. Namun kadangkala jalan hidup yang dipilih seseorang bukanlah pilihan hatinya, karena ada hal lain yang lebih besar dari kemampuannya yang memaksanya untuk memilih jalan tersebut untuknya.

Jalan Sukses

Sebetulnya tidak ada kata tidak mungkin di dunia ini, karena semuanya ada yang berkuasa. Jika manusia mau berusaha dan selalu meminta pada yang punya kuasa, Dia pasti akan memberinya. Hanya saja, faktor kapan dan dimana permintaan itu akan terkabulkan, itu yang membuat kita tidak sabar menjalaninya.

Jangan Memaksakan Diri

Ada batas-batas yang dimiliki oleh manusia, dan kelemahan-kelemahan yang menjadi takdirnya. Adakalanya kita harus menundukkan kepala dan menyerah kepada ketentuan yang sudah digariskan, dan tidak bisa memaksakan kehendak seperti yang kita mau. Dan justru ketika kita menundukkan diri inilah, kita menjadi manusia yang sebenarnya.

Kita Semua Sama

Mungkin kita merasa rendah ketika berhadapan dengan orang yang lebih dari kita. Terkadang kita merasa sangat lemah ketika berhadapan dengan orang yang berkuasa. Namun sebenarnya kita lupa, bahwa kita semua adalah sama. Kita adalah makhluk yang lemah dihadapan-Nya. Kita adalah butiran debu di alam semesta.

Jangan Sombong

Jauhkanlah hatimu dari sifat sombong, karena sesungguhnya sifat sombong itu mengikis semua amalmu hingga tak tersisa. Ingatlah, sifat sombong itu dibenci oleh manusia, dan dibenci oleh sang Pencipta. Karena kesombongan hanya milik-Nya semata. Kelebihan yang kita punya hanya titipan-Nya, kita akan mempertanggungjawabkannya.

15 Maret 2017

Cara Sharing Internet @Wifi.id Via Ethernet


Permasalahan.
Membagi koneksi internet @wifi.id melalui jaringan lokal area network merupakan suatu pekerjaan yang tidak gampang. Kenapa? Karena sangat tidak mudah untuk membagi koneksi @wifi.id melalui jaringan yang ada. Walaupun jaringan lokal sudah bisa terkoneksi dengan baik, tapi koneksi internet tidak.

Penulis mengalami yang rumit tersebut, ketika beralih koneksi dari system fiber optik yang lama ke  system @wifi.id dan berniat membaginya dalam area network lokal. Namun hal itu tidak semudah yang dibayangkan. Walaupun infrastruktur yang lama sudah berjalan dengan baik, tapi ketika sudah dirubah ke system yang baru tersebut, koneksi jadi tidak tersambung. Lama sekali untuk mencari titik permasalahan yang dihadapi. Mulai dari mencari masalah IP address yang mungkin tidak satu subnet, gateway, DNS, router, dan sebagainya. Dan bisa dibayangkan, itu bukan sesuatu yang mudah, karena yang dicek bukan hanya satu komputer saja, tapi banyak. Satu komputer bisa terkoneksi, belum tentu komputer yang lainnya bisa terkoneksi, jika koneksi itu 'dipaksakan'. Kenapa saya bilang begitu, karena secara teknis sebuah komputer bisa dipaksa untuk terhubung ke komputer lain dengan cara-cara tertentu, walaupun itu menggunakan cara yang nampaknya sedikit dipaksakan.

Wah, jadi agak panjang ngelanturnya. OK kembali ke LAPTOP...

Setelah mengotak-atik di Windows selama beberapa waktu, baik Windows server, windows 8, windows 7 dsb, tidak sukses, saya coba menggunakan Linux. Itupun  Linux yang ringa sekali, yaitu Linux Lite turunan Ubuntu.


 Berbekal sedikit pengetahuan yang ada tentang jaringan dan Linux, penulis mencoba mencari permasalahan yang ada melalui manajer jaringan yang ada di Linux Lite tersebut. Secara intuitif, penulis merasa bahwa, dengan menggunakan sharing koneksi yang ada, tanpa pengaturan manual IP jaringan, penulis rasa akan bisa membagi koneksi yang ada. Dengan asumsi, DHCP akan dihandel oleh system yang ada, kalau gak salah  aplikasi atau script 'resolvconf' kali ya untuk menyebar ip agar dikenali oleh klien, karena OS-nya adalah Desktop bukan Server. Nah dengan asumsi tersebut penulis cari pengaturan di Network Manager Linuxlite dan ternyata ada, yaitu di tab Ipv4 Settings, kemudian di menu 'Method' kita tinggal pilih model jaringannya.

Setelah begitu, aku matikan dulu koneksinya agar, mendapatkan ip baru atau merefresh ip yang sudah ada. Setelah beberapa menit aku nyalakan lagi. Dan setelah aku rasa penyebaran IP ke network sudah berjalan,  aku pergi komputer klien untuk merubah ip klien menjadi otomatis semua. Dengan mudah, agar IP yang didapat fresh, aku disable dulu adapternya, kemudian aku nyalakan lagi.

Sembari menunggu adapter mendapatkan ip baru dari (anggap saja 'server') linux dengan harap-harap cemas, aku minum kopi dulu dan menyulut sebatang rokok Djarum Super kesukaanku sambil menikmati aroma rokok yang terasa sangat nikmat sekali. Dan itu merupakan suatu pertanda akan sebuah kesuksesan, karena rasa rokok berubah jadi nikmat sekali rasanya, dan perasaan jadi fresh beneran.

Setelah selesai mendapatkan IP dari 'server', aku coba buka command windows xp yang merupakan client dari jaringan yang ada, dan mengetikkan perintah 'ipconfig' aku mendapatkan ip yang berbeda dari pengaturan-pengaturan yang biasa aku terapkan sebelumnya, yaitu 10.42.0.X, yang biasa IP yang aku gunakan berbasis 192.168 ... Berarti IP sudah berubah dan mendapatkan 'sebaran' dari 'server', karena sudah tidak menampilkan IP lama ataupun IP publik. Lalu aku coba ping koneksi luar, yaitu www.google.com, dan ..

ALHAMDULILLAH ....

ternyata koneksi pun bisa terhubung.
Lalu aku buktikan dengan membuka browser, karena kalau di ping sudah bisa, bisa dipastikan di browser pun sudah bisa. Dan ternyata betul apa yang aku pikirkan, koneksi secepat kilat tersambung ke internet via browser mozilla firefox kesayanganku, dan membukan alamat www.ekajaya.cu.cc buatanku.

Dan ceritapun berakhir sampai disini, karena permasalahan sudah bisa di atasi.
Terima kasih bagi yang sudah membaca sampai paragraf terakhir ini, karena berarti Anda masih setia mendengarkan apa yang menjadi cerita saya, hehe...

Salam sukses selalu ...

11 Maret 2017

Trouble dalam Pembuatan Virtual Host



Cerita kali ini adalah tentang pembuatan virtual host di server lokal.
Singkat cerita, setelah mengutak-atik pembuatan virtual-host apache2 di server lokal, selalu saja gagal dan mentok dengan pesan errornya :

"Syntax error on line 3 of /etc/apache2/sites-enabled/ekajaya.net:
ServerAdmin takes one argument, The email address of the server administrator"

Lama ane pantengin tuh baris ketiga. Perasaan tidak ada yang salah. Isinya sebagai berikut :


        ServerAdmin sysadmin@localhost   # email administrator
        ServerName ekajaya.net    # nama server websitenya
        ServerAlias www.ekajaya.net  # anama server aliasnya.

Akhirnya pengembaraan di belantara dunia maya pun dilakukan. Sampai di rimba ada salah satu rumah, nama pemiliknya om ALDO. Ane ikutin petunjuknya, namun tetap ada kesalahan.
Pengembaraan dilanjutkan, dan dapat keterangan-keterangan dari beberapa orang, ada yang mengatakan bahwa baris apapun yang ada dibelakang nama ServerAdmin tersebut akan dianggap sebagai sebuah argumen. Mungkin benar, lalu ane hapus tanda comment (#) yang ada dibelakangnya.
Masih ada kesalahan lagi. Errornya masih rada-rada sama. Berkelana lagi. Bolak-balik bolak-balik. Dan yang namanya internet juga, banyak sekali tulisan yang isinya sama, tapi websitenya berbeda-beda, bahkan sampai beberapa website, isinya sama saja semuanya. Hah, betul kata orang, bahwa informasi yang ada di internet adalah kebanyakan plagiat alias hasil copy-paste. Sudah tidak jelas lagi mana yang asli. Begitu juga dengan informasinya, kebanyakan adalah 'sampah' dan 'hoax'. Itu kata orang sih, hehe... Eh, jadi ngelantur juga.
Kembali ke LAPTOP ...
Mantengin apa yang ada, dan berkelana di dunia belantara tak berujung, lumayan membuat kepala pusing. Saya jadi lupa kalau di dalam kepala saya sudah banyak sekali informasi yang tersimpan dan tinggal dikeluarin saja. Akhirnya aku cari-cari informasi di dalam kepala saya sendiri, barangkali ada informasi-informasi yang bisa jadi solusi dari permasalahan yang saya hadapi.
Akhirnya terlintas di salah satu bagian memori otak ada tulisan yang tersimpan, yaitu bahwa sebelum dari semua yang aku lakukan itu dilakukan, yang perlu dilakukan pertama adalah mengecek hostname terlebih dahulu. Dan bahwa hasil dari berkelana tadi juga ada orang yang mengatakan bahwa sebelum hasil dari config tadi dieksekusi maka akan dichek terlebih dahulu secara menyeluruh, kalau-kalau ada kesalahan di checkconfig. Begitu juga dengan konfigurasi virtual-host web itu akan disinkronkan dengan nama host yang ada di kompinya. Jika tidak sinkron, maka akan ditampilkan kesalahan, walaupun kesalahan yang ditampilkan itu tidak merujuk langsung pada hal itu, itu menurut saya sih. Contohnya yang tadi, informasi kesalahannya pada baris ketiga, server admin of administrator atau takes one argument yang menurut saya tidak akurat. Tapi apapun pesan kesalahan itu, entah itu akurat atau tidak, yang pasti masih adalah kesalahan dalan konfigurasi webnya.
Dan setelah diteliti, ternyata memang hostnya yang aku buat sebelumnya adalah bukan untuk kepentingan web, tapi lokal area network, jadi aku kasih nama virtual.ekajaya.lan. Hah, jelas gak nyambung, dalam pikiran saya berkata begitu...
Akhirnya pembuatan virtual-hostnya dipending dan mengganti nama host-nya terlebih dahulu. Dan lagi-lagi ternyata memang harus mengandalkan diri sendiri daripada tulisan yang sangat banyak di internet yang bisa bikin pusing 7 keliling. Aku fokus saja pada memori-memori yang ada di otakku. Penamaan hostname di system berbasis ubuntu maupun debian tidak akan permanen, kecuali dengan cara tertentu, karena setelah direstart hostname akan kembali lagi menjadi semula. Dan di Debian, eksekusi hostname ada pada script hostname.sh di init.d, dan di kernel-hostname.
Setelah itu semua dilakukan, dan service apache2-nya direstart, Alhamdulillah, berjalan dengan lancar tanpa ada pesan error lagi.
Alhamdulillah, dan cerita kali ini pun berakhir ...
Terima kasih jika Anda membaca oretanku sampai terakhir, disini ... hehe...

Buat permanen file resolv.conf debian


Masalah yang seringkali dihadapi administrator jaringan di linux adalah mengatur nameserver atau dns server, karena pengaturan yang ada di file /etc/resolv.conf seringkali berubah kembali ketika server direstart.

Ada bermacam-macam cara yang disarankan, namun seringkali juga gagal ketika dicoba. Pengaturan masih tetap kembali ke semula. Ada yang sampai dengan cara begini :
"
silahkan rubah file /etc/resolvconf/resolv.conf.d/base
kemudian isi dengan nameserver anda
nano /etc/resolvconf/resolv.conf.d/base
isinya
nameserver 8.8.8.8
nameserver 8.8.4.4
"
Itu sih kalau aplikasi resolvconf-nya terinstall.
Kalau saya lebih suka cara yang simpel dan tidak berbelit-belit. Saya rubah saja attribut file dari resolv.conf tersebut agar isinya tidak berubah-ubah, yaitu dengan perintah "chattr". Jadi begini : "chattr +i /etc/resolv.conf".
Dengan cara di atas diharapkan isi dari file tersebut tidak berubah lagi karena filenya sudah tidak bisa ditulisi.

10 Maret 2017

Remote Desktop Server Linux




Jika kesulitan untuk me-remote server linux di VPS karena beberapa keterbatasan, entah itu kurangnya pengetahuan tentang cara konfigurasi yang benar, maupun hal yang lainnya, maka cara paling gampang menurut saya adalah menggunakan xrdp. Mengapa? Pengalaman setting menggunakan Tightvnc atau VNCserver seringkali berujung kegagalan dengan menampilkan layar berbintik-bintik kosong tanpa tampilan apa-apa.
Nah! Setelah kita selesai mensetting server untuk bisa menampilkan GUI, entah itu gnome, kde, lxde, cinnamon, dan semacamnya, maka langkah selanjutnya adalah tinggal install xrdp via apt-get atau yum (aku generalisasikan saja, mungkin semua distro sama karena aku belum sempat mencoba semuanya). Setelah selesai, kita tinggal connect menggunakan rdp atau remote desktop connection bawaan windows. Beresss ! Dan kita bisa merasakan kecepatan koneksi server via GUI dan bukan hanya tampilan hitam putih saja, hehe...

03 Maret 2017

Setting Transmission Daemon tidak Tersimpan


Mengedit file transmission-daemon yang biasanya ada di "/etc/transmission-daemon/settings.json" pada Debian 7, akan kembali lagi ke pengaturan default. Penyebabnya ternyata adalah service transmission-daemon harus dihentikan terlebih dahulu. Setelah itu baru file yang kita edit kita bisa tersimpan.

06 Februari 2017

Konfigurasi Transmission Daemon Debian


Letak konfigurasi transmission-daemon di debian seringkali membingungkan. Karena di beberapa tutorial internet letak dari config json bermacam-macam. Dan seringkali ketika diedit dan disimpan seringkali hasilnya tetap tidak bisa berjalan normal.

Nah sebetulnya letak dari config TD terletak di /etc/transmission-daemon dengan nama settings.json.
Agar bisa konek ganti letak direktori download (buat dulu dan ubah permisionnya agar bisa ditulisi). Ganti pula whitelist-nya menjadi "*". Kalau perlu username dan passwordnya juga diganti.

Dan sebelum itu semua dilakukan stop dulu service TD-nya. Selesai!

12 Agustus 2016

Install Windows 7 via LAN Sangat Mudah Menggunakan Windows Deployment Service



Bagi administrator jaringan, menginstall system operasi merupakan suatu hal yang cukup melelahkan, apalagi jika yang harus diinstall cukup banyak. Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk mempercepat proses instalasi, baik menggunakan CD/DVD, Flashdisk, Cloning, dan LAN.

Instalasi via LAN merupakan hal yang cukup rumit dilakukan karena harus mengkonfigurasi jaringan dengan benar, terutama setting DHCP, yang merupakan jembatan penghubung antara server dengan client yang akan diinstall. Demikian pula setting PXE boot-nya yang boleh dikatakan cukup rumit bagi pemula, baik itu di Linux maupun di OS Windows.

Namun rupanya pihak pengembang OS Windows cukup tanggap mengenai permasalahan ini, sehingga diciptakan sebuah sistim instalasi yang menurut saya cukup mudah dilakukan, baik bagi pemula sekalipun, yaitu dengan menggunakan Windows Deployment Service. Mengapa saya katakan cukup mudah, karena Windows Deployment Service (WDS) tidak memerlukan pengaturan DHCP secara detail, baik informasi PXE-bootnya, maupun OS yang akan diinstall. Hanya yang perlu diperhatikan adalah jika DHCP dan WDS berjalan di Server yang sama, perlu ada sedikit pengaturan khusus. Namun jika DHCP berjalan di lain Server, misalnya di mesin virtual, pengalaman penulis maka pengaturan DHCP tidak perlu diotak-atik lagi. Cukup install service WDS, jalankan Wizard, copy OS ke tempat khusus (kalau bisa jangan di C:), dan pastikan semua benar seperti yang dituntun oleh Wizard, dan selesai.

Saat pertama dijalankan saat penulis mencoba menginstall windows 7, yang jadi masalah adalah ketika client sudah bisa booting, tiba-tiba mentok di saat memasukkan username dan password. Setelah diselidiki ternyata format penulisan username adalah menggunakan system Deploy, yaitu instalasi via network, jadi formatnya harus seperti ini : username/Administrator, atau username@server.lan. Setelah pemasukan username dan password benar, maka proses instalasi akan berjalan dengan mulus. Dan karena instalasi berjalan via LAN, maka instalasi bisa dilakukan serentak untuk beberapa komputer sekaligus.

Begitulah kira-kira gambarannya sebagai inspirasi atau tuts (saya juga kurang paham istilah itu) tentang instalasi via LAN menggunakan Windows Deployment Service yang penulis alami.

03 Mei 2016

Turn On Network Discovery fo Private and Public Network



Agar network bisa ditemukan oleh client lain di jaringan yang sama di Windows 8 ataupun Windows Server 2008/2012, kita bisa setting private dan publik sekaligus menjadi ON.  Biar lebih mudah dan cepat gunakan command prompt dan jalankan sebagai administrator :

netsh advfirewall firewall set rule group="Network Discovery" new enable=Yes
Selesai !

Sumber bacaan : tertera di gambar di atas.

21 September 2015

Teknologi Barat yang Menakutkan


Teknologi manusia memang sudah mencapai titik yang cukup tinggi. Namun dibalik tingginya teknologi tersebut akan menjadi sangat menakutkan bagi kita jika digunakan pada hal-hal yang tidak semestinya.

Kita lihat saja misalnya teknologi HAARP seperti yang dilansir salah satu website : INDOCROPCIRCLES beberapa tahun yang lalu.

Kita berdo'a saja semoga kejadian-kejadian gempa dan bencana yang sering terjadi akhir-akhir ini di berbagai penjuru dunia dan terutama runtuhnya tower di Mekkah Al-Mukarromah tidak ada hubungannya dengan program penghancuran menggunakan teknologi.

10 Juli 2015

Mini Linux Online to Deploy Application


Tak sengaja menemukan aplikasi cloud online berupa mini linux server untuk mendeploy aplikasi. Free user dapat menyalakan mesin selama 240-480 menit. Lumayan untuk mencoba aplikasi berbasis web tanpa harus bayar.

Untuk mengakses web kita bisa mengaksesnya melalui username.thinapps.org, yang mana username adalah hasil generate dari aplikasi kita.

Untuk mengaksesnya silahkan kunjungi : thinapps.org.

Install Canon Ip2770 di Ubuntu 14.04


Terdapat masalah ketika menginstall driver yang didownload dari website Canon untuk Ubuntu 14.04 yaitu file dependency libtiff4 tidak ditemukan. Usaha yang cukup keras diperlukan untuk menemukan solusi permasalahan tersebut.

Kebetulan penulis sudah resolve alias menemukan solusinya. Dengan menambahkan repository ppa:michael-gruz/canon-trunk
tidak berhasil. Kemudian penulis menambahkan secara manual ke /etc/apt/sources.list :
 
deb http://ppa.launchpad.net/michael-gruz/canon-trunk/ubuntu trusty main 
deb-src http://ppa.launchpad.net/michael-gruz/canon-trunk/ubuntu trusty main

Akhirnya berhasil menginstallnya. Anehnya printer tidak muncul-muncul juga, mungkin karena penulis tidak sabar kali ya. Akhirnya menambahkan juga printer secara manual. Coba-coba memilih dari network printer, eh muncul sendiri tuh usb printernya.

Cara lain yang belum penulis coba adalah mendownload dari debian :
ftp://ftp.us.debian.org/debian/pool/main/t/tiff3/libtiff4_3.9.6-11_i386.deb
tapi sudah kadung berhasil duluan menginstall dengan cara di atas, hehe...

Catatan Tentang Resolv.conf Ubuntu


Ubuntu versi 11 ke atas menyisakan tanda tanya tentang resolv.conf yang sempat membuat aku kebingungan. Karena setiap kali definisi dns server dimasukkan, setiap kali itu pula berubah.

Setelah beberapa lama, dan itu cukup lama, saya mendapatkan pencerahan dengan membaca beberapa comment dan petunjuk di ubuntu forum. Ternyata begini menurut pemahaman yang dapat saya tangkap dan menurut bahasa saya sendiri :D :D

File resolv.conf itu adalah hasil generate dari beberapa konfigurasi lain, seperti ifup, network interface, dan yang satunya lagi saya lupa. Jadi kita tidak bisa mengedit file resolv.conf itu sendiri karena setiap kali itu pula akan direplace dengan hasil generate tadi.

Cara yang menurut saya paling manjur adalah dengan mengubah file : /etc/NetworkManager/NetworkManager.conf pada baris: dns=dnsmasq. Kasih saja tanda centang di bagian depannya, atau bisa kita ganti langsung kali ya, saya belum mencobanya, karena dns-nameservers langsung saya letakkan di /etc/network/interfaces, dan ternyata resolv.conf pun ngambil dari network interfaces ini  ketika dnsmasq di network manager kita kasih comment.

Bagian lain yang mungkin cukup penting dan seringkali membingungkan adalah network manager desktop ubuntu seringkali tidak tampil ketika config manual kita aktifkan. Dan itu bisa saya selesaikan dengan menghapus config manual yang saya buat di /etc/network/interfaces. Nah sekarang yang jadi masalah saya adalah saya tidak sengaja menghapus interface eth1 yang ada di network manager sehingga interfacenya hilang semua. Saya buat secara manual dengan menambahkan ethernet ternyata tidak bisa.

Masalah lainnya adalah ketika file resolv.conf kita buat secara manual, dan itu dikenali sebagai bukan symbolic link oleh linux. :D. Ternyata itu cukup mudah, cukup hapus saja file resolv.conf tadi dan kita restart computernya, dan kita akan dibuatkan file resolv.conf kembali oleh system yang masih fresh, hehehe...

Ternyata file sederhana resolv.conf cukup membuat kelabakan ...