13 Februari 2019

Masalah Error Koneksi Printer via Jaringan Lokal


Sempat kelabakan ketika mau print via network setelah server diinstall ulang karena bermasalah. Semua setting sudan selesai dan hampir sama persis dengan yang sebelumnya, bedanya, kali ini menggunakan W1nd0w5-10 dari yang sebelumnya versi 8.1.


Semua cara yang disarankan oleh para praktisi jaringan, baik dalam dan luar negeri sudah dicoba, namun tidak juga berhasil konek. Pesannya selalu cannot access atau access denied. Padahal, printer sudah terinstall, dan itu dari server via network. Printer terkoneksi tapi tidak bisa menginstall. Setelah diutak-atik, malah printer tidak bisa mengakses server. Sudah hampir putus asa .... Berada di ujung tanduk, karena sudah capek banget, pikiran juga lelah... Akhirnya aku tundukkan kepala dan letakkan di atas meja dan merilekskan pikiran dan otot-otot yang tegang sembari memohon petunjuk yang maha kuasa atas segalanya. Selang 5 menit kemudian, aku mengambil snack Pia dan rokok Marlboro dan menikmatinya sambil mengetik masalah error printer via jaringan. Muncul tulisan yang sumbernya sepertinya dari M1cR0s0ft. Aku baca, dan aku pahami isinya. Habis itu aku pikir logikanya bagaimana, bisakah itu menyelesaikan masalah?

Isi otakku menemukan jawabannya, itu mungkin saja bisa, karena itu bla bla bla, bla bla bla ....

Karena isinya itu begini...
- Menambah printer baru dengan port lokal.
- Biarin jangan diapa-apain kecuali menambah \\namaserver\namaprintershare
- Kalau minta driver, install drivernya


Begitu intinya. Jadi logikanya, port jaringan yang dijadiin lokal.
Apa itu beda dengan mengakses langsung dari network share? Akhirnya aku buktikan.


Aku lakukan seperti yang diuraikan di atas. Install drivernya pun via network yang dishare. Sukses terinstall. Tinggal mencobanya. Dan ternyata .....................

SUKSESSS !!!

Ternyata memang beda antara menambahkan printer langsung via network share dengan menambahkan secara manual alamat network share-nya. Aneh memang Mikocok ini ....

Akhirnya pusingku hilang seketika. Dan ini adalah pengalaman berharga yang sangat berarti. Masalah yang akan membuat kita menjadi dewasa, asal kita terus berusaha mencari pemecahannya, dan bukan membiarkannya. Karena bukan akan membuat kita dewasa tapi menjadi putus asa ...

Terima kasih!

15 Maret 2017

Cara Sharing Internet @Wifi.id Via Ethernet


Permasalahan.
Membagi koneksi internet @wifi.id melalui jaringan lokal area network merupakan suatu pekerjaan yang tidak gampang. Kenapa? Karena sangat tidak mudah untuk membagi koneksi @wifi.id melalui jaringan yang ada. Walaupun jaringan lokal sudah bisa terkoneksi dengan baik, tapi koneksi internet tidak.

Penulis mengalami yang rumit tersebut, ketika beralih koneksi dari system fiber optik yang lama ke  system @wifi.id dan berniat membaginya dalam area network lokal. Namun hal itu tidak semudah yang dibayangkan. Walaupun infrastruktur yang lama sudah berjalan dengan baik, tapi ketika sudah dirubah ke system yang baru tersebut, koneksi jadi tidak tersambung. Lama sekali untuk mencari titik permasalahan yang dihadapi. Mulai dari mencari masalah IP address yang mungkin tidak satu subnet, gateway, DNS, router, dan sebagainya. Dan bisa dibayangkan, itu bukan sesuatu yang mudah, karena yang dicek bukan hanya satu komputer saja, tapi banyak. Satu komputer bisa terkoneksi, belum tentu komputer yang lainnya bisa terkoneksi, jika koneksi itu 'dipaksakan'. Kenapa saya bilang begitu, karena secara teknis sebuah komputer bisa dipaksa untuk terhubung ke komputer lain dengan cara-cara tertentu, walaupun itu menggunakan cara yang nampaknya sedikit dipaksakan.

Wah, jadi agak panjang ngelanturnya. OK kembali ke LAPTOP...

Setelah mengotak-atik di Windows selama beberapa waktu, baik Windows server, windows 8, windows 7 dsb, tidak sukses, saya coba menggunakan Linux. Itupun  Linux yang ringa sekali, yaitu Linux Lite turunan Ubuntu.


 Berbekal sedikit pengetahuan yang ada tentang jaringan dan Linux, penulis mencoba mencari permasalahan yang ada melalui manajer jaringan yang ada di Linux Lite tersebut. Secara intuitif, penulis merasa bahwa, dengan menggunakan sharing koneksi yang ada, tanpa pengaturan manual IP jaringan, penulis rasa akan bisa membagi koneksi yang ada. Dengan asumsi, DHCP akan dihandel oleh system yang ada, kalau gak salah  aplikasi atau script 'resolvconf' kali ya untuk menyebar ip agar dikenali oleh klien, karena OS-nya adalah Desktop bukan Server. Nah dengan asumsi tersebut penulis cari pengaturan di Network Manager Linuxlite dan ternyata ada, yaitu di tab Ipv4 Settings, kemudian di menu 'Method' kita tinggal pilih model jaringannya.

Setelah begitu, aku matikan dulu koneksinya agar, mendapatkan ip baru atau merefresh ip yang sudah ada. Setelah beberapa menit aku nyalakan lagi. Dan setelah aku rasa penyebaran IP ke network sudah berjalan,  aku pergi komputer klien untuk merubah ip klien menjadi otomatis semua. Dengan mudah, agar IP yang didapat fresh, aku disable dulu adapternya, kemudian aku nyalakan lagi.

Sembari menunggu adapter mendapatkan ip baru dari (anggap saja 'server') linux dengan harap-harap cemas, aku minum kopi dulu dan menyulut sebatang rokok Djarum Super kesukaanku sambil menikmati aroma rokok yang terasa sangat nikmat sekali. Dan itu merupakan suatu pertanda akan sebuah kesuksesan, karena rasa rokok berubah jadi nikmat sekali rasanya, dan perasaan jadi fresh beneran.

Setelah selesai mendapatkan IP dari 'server', aku coba buka command windows xp yang merupakan client dari jaringan yang ada, dan mengetikkan perintah 'ipconfig' aku mendapatkan ip yang berbeda dari pengaturan-pengaturan yang biasa aku terapkan sebelumnya, yaitu 10.42.0.X, yang biasa IP yang aku gunakan berbasis 192.168 ... Berarti IP sudah berubah dan mendapatkan 'sebaran' dari 'server', karena sudah tidak menampilkan IP lama ataupun IP publik. Lalu aku coba ping koneksi luar, yaitu www.google.com, dan ..

ALHAMDULILLAH ....

ternyata koneksi pun bisa terhubung.
Lalu aku buktikan dengan membuka browser, karena kalau di ping sudah bisa, bisa dipastikan di browser pun sudah bisa. Dan ternyata betul apa yang aku pikirkan, koneksi secepat kilat tersambung ke internet via browser mozilla firefox kesayanganku, dan membukan alamat www.ekajaya.cu.cc buatanku.

Dan ceritapun berakhir sampai disini, karena permasalahan sudah bisa di atasi.
Terima kasih bagi yang sudah membaca sampai paragraf terakhir ini, karena berarti Anda masih setia mendengarkan apa yang menjadi cerita saya, hehe...

Salam sukses selalu ...

11 Maret 2017

Trouble dalam Pembuatan Virtual Host



Cerita kali ini adalah tentang pembuatan virtual host di server lokal.
Singkat cerita, setelah mengutak-atik pembuatan virtual-host apache2 di server lokal, selalu saja gagal dan mentok dengan pesan errornya :

"Syntax error on line 3 of /etc/apache2/sites-enabled/ekajaya.net:
ServerAdmin takes one argument, The email address of the server administrator"

Lama ane pantengin tuh baris ketiga. Perasaan tidak ada yang salah. Isinya sebagai berikut :


        ServerAdmin sysadmin@localhost   # email administrator
        ServerName ekajaya.net    # nama server websitenya
        ServerAlias www.ekajaya.net  # anama server aliasnya.

Akhirnya pengembaraan di belantara dunia maya pun dilakukan. Sampai di rimba ada salah satu rumah, nama pemiliknya om ALDO. Ane ikutin petunjuknya, namun tetap ada kesalahan.
Pengembaraan dilanjutkan, dan dapat keterangan-keterangan dari beberapa orang, ada yang mengatakan bahwa baris apapun yang ada dibelakang nama ServerAdmin tersebut akan dianggap sebagai sebuah argumen. Mungkin benar, lalu ane hapus tanda comment (#) yang ada dibelakangnya.
Masih ada kesalahan lagi. Errornya masih rada-rada sama. Berkelana lagi. Bolak-balik bolak-balik. Dan yang namanya internet juga, banyak sekali tulisan yang isinya sama, tapi websitenya berbeda-beda, bahkan sampai beberapa website, isinya sama saja semuanya. Hah, betul kata orang, bahwa informasi yang ada di internet adalah kebanyakan plagiat alias hasil copy-paste. Sudah tidak jelas lagi mana yang asli. Begitu juga dengan informasinya, kebanyakan adalah 'sampah' dan 'hoax'. Itu kata orang sih, hehe... Eh, jadi ngelantur juga.
Kembali ke LAPTOP ...
Mantengin apa yang ada, dan berkelana di dunia belantara tak berujung, lumayan membuat kepala pusing. Saya jadi lupa kalau di dalam kepala saya sudah banyak sekali informasi yang tersimpan dan tinggal dikeluarin saja. Akhirnya aku cari-cari informasi di dalam kepala saya sendiri, barangkali ada informasi-informasi yang bisa jadi solusi dari permasalahan yang saya hadapi.
Akhirnya terlintas di salah satu bagian memori otak ada tulisan yang tersimpan, yaitu bahwa sebelum dari semua yang aku lakukan itu dilakukan, yang perlu dilakukan pertama adalah mengecek hostname terlebih dahulu. Dan bahwa hasil dari berkelana tadi juga ada orang yang mengatakan bahwa sebelum hasil dari config tadi dieksekusi maka akan dichek terlebih dahulu secara menyeluruh, kalau-kalau ada kesalahan di checkconfig. Begitu juga dengan konfigurasi virtual-host web itu akan disinkronkan dengan nama host yang ada di kompinya. Jika tidak sinkron, maka akan ditampilkan kesalahan, walaupun kesalahan yang ditampilkan itu tidak merujuk langsung pada hal itu, itu menurut saya sih. Contohnya yang tadi, informasi kesalahannya pada baris ketiga, server admin of administrator atau takes one argument yang menurut saya tidak akurat. Tapi apapun pesan kesalahan itu, entah itu akurat atau tidak, yang pasti masih adalah kesalahan dalan konfigurasi webnya.
Dan setelah diteliti, ternyata memang hostnya yang aku buat sebelumnya adalah bukan untuk kepentingan web, tapi lokal area network, jadi aku kasih nama virtual.ekajaya.lan. Hah, jelas gak nyambung, dalam pikiran saya berkata begitu...
Akhirnya pembuatan virtual-hostnya dipending dan mengganti nama host-nya terlebih dahulu. Dan lagi-lagi ternyata memang harus mengandalkan diri sendiri daripada tulisan yang sangat banyak di internet yang bisa bikin pusing 7 keliling. Aku fokus saja pada memori-memori yang ada di otakku. Penamaan hostname di system berbasis ubuntu maupun debian tidak akan permanen, kecuali dengan cara tertentu, karena setelah direstart hostname akan kembali lagi menjadi semula. Dan di Debian, eksekusi hostname ada pada script hostname.sh di init.d, dan di kernel-hostname.
Setelah itu semua dilakukan, dan service apache2-nya direstart, Alhamdulillah, berjalan dengan lancar tanpa ada pesan error lagi.
Alhamdulillah, dan cerita kali ini pun berakhir ...
Terima kasih jika Anda membaca oretanku sampai terakhir, disini ... hehe...

Buat permanen file resolv.conf debian


Masalah yang seringkali dihadapi administrator jaringan di linux adalah mengatur nameserver atau dns server, karena pengaturan yang ada di file /etc/resolv.conf seringkali berubah kembali ketika server direstart.

Ada bermacam-macam cara yang disarankan, namun seringkali juga gagal ketika dicoba. Pengaturan masih tetap kembali ke semula. Ada yang sampai dengan cara begini :
"
silahkan rubah file /etc/resolvconf/resolv.conf.d/base
kemudian isi dengan nameserver anda
nano /etc/resolvconf/resolv.conf.d/base
isinya
nameserver 8.8.8.8
nameserver 8.8.4.4
"
Itu sih kalau aplikasi resolvconf-nya terinstall.
Kalau saya lebih suka cara yang simpel dan tidak berbelit-belit. Saya rubah saja attribut file dari resolv.conf tersebut agar isinya tidak berubah-ubah, yaitu dengan perintah "chattr". Jadi begini : "chattr +i /etc/resolv.conf".
Dengan cara di atas diharapkan isi dari file tersebut tidak berubah lagi karena filenya sudah tidak bisa ditulisi.

10 Maret 2017

Remote Desktop Server Linux




Jika kesulitan untuk me-remote server linux di VPS karena beberapa keterbatasan, entah itu kurangnya pengetahuan tentang cara konfigurasi yang benar, maupun hal yang lainnya, maka cara paling gampang menurut saya adalah menggunakan xrdp. Mengapa? Pengalaman setting menggunakan Tightvnc atau VNCserver seringkali berujung kegagalan dengan menampilkan layar berbintik-bintik kosong tanpa tampilan apa-apa.
Nah! Setelah kita selesai mensetting server untuk bisa menampilkan GUI, entah itu gnome, kde, lxde, cinnamon, dan semacamnya, maka langkah selanjutnya adalah tinggal install xrdp via apt-get atau yum (aku generalisasikan saja, mungkin semua distro sama karena aku belum sempat mencoba semuanya). Setelah selesai, kita tinggal connect menggunakan rdp atau remote desktop connection bawaan windows. Beresss ! Dan kita bisa merasakan kecepatan koneksi server via GUI dan bukan hanya tampilan hitam putih saja, hehe...

03 Maret 2017

Setting Transmission Daemon tidak Tersimpan


Mengedit file transmission-daemon yang biasanya ada di "/etc/transmission-daemon/settings.json" pada Debian 7, akan kembali lagi ke pengaturan default. Penyebabnya ternyata adalah service transmission-daemon harus dihentikan terlebih dahulu. Setelah itu baru file yang kita edit kita bisa tersimpan.

Masalah Error Koneksi Printer via Jaringan Lokal

Sempat kelabakan ketika mau print via network setelah server diinstall ulang karena bermasalah. Semua setting sudan selesai dan hampir sama...